Friday, 29 March 2013

Pahlawan Seumur Hidupku: Ayah

Semoga kalian yang membaca tulisan ini bisa mengambil banyak hikmah juga seperti aku. Selamat membaca.

---------------------------------------

Bila kamu adalah seorang anak perempuan yang sudah dewasa, anak perempuan yang sedang bekerja di perantauan, anak perempuan yang ikut suamimu merantau di luar kota atau luar negeri, anak perempuan yang sedang bersekolah atau kuliah di daerah yang jauh dari kedua orang tuamu, kamu pasti lebih sering merasa sangat rindu pada Ibumu kan? Lalu bagaimana dengan Ayahmu?

Mungkin, karena Ibu lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari, kamu jadi lebih merasa rindu pada ibumu. Tapi, tahukah kamu bila ternyata Ayahlah yang mengingatkan Ibu untuk menelponmu?

Mungkin, sewaktu kamu kecil dulu, Ibulah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng. Tapi, tahukah kamu bahwa sepulang dari bekerja -dengan wajah lelah- Ayah selalu menanyakan pada Ibu tentang kabarmu dan apa yang kamu lakukan seharian tadi?

Pada saat kamu masih seorang anak perempuan kecil, Ayah biasanya mengajari putri kecilnya bersepeda. Dan setelah Ayah menganggapmu bisa, Ayah akan melepaskan roda bantu di sepedamu. Kemudian Ibu bilang: “Jangan dulu Ayah, jangan dilepas dulu roda bantunya”
Ibu takut putri manisnya terjatuh lalu terluka. Namun, sadarkah kamu bahwa Ayah dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu dalam mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu  bahwa putri kecilnya PASTI BISA?

Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Ibu menatapmu iba. Tetapi Ayah akan mengatakan dengan tegas: “Boleh. Tapi tidak sekarang, kita beli nanti”
Tahukah kamu mengapa Ayah begitu? Itu karena Ayah tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu terpenuhi.

Ketika kamu sakit flu, Ayah yang terlalu khawatir terkadang akan sedikit membentakmu saat berkata :
“Sudah Ayah bilang, kamu jangan minum air dingin!”.
Berbeda dengan Ibu yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut. Ketahuilah bahwa saat itu Ayah benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.

Ketika kamu sudah beranjak remaja, kamu mulai menuntut Ayah untuk memberimu izin keluar malam, tetapi Ayah bersikap tegas dan mengatakan: “Tidak boleh!”.
Tahukah kamu apa alasan Ayah begitu? Ayah melakukan itu untuk menjagamu karena bagi Ayah, kamu adalah sesuatu yang amat sangat luar biasa berharga.
Setelah itu, kamu pasti marah pada Ayah, lalu masuk ke kamar sambil membanting pintu. Tahukah kamu, bahwa saat itu Ayah memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya? Sebenarnya, Ayah sangat ingin mengikuti keinginanmu, akan tetapi dia HARUS menjagamu.

Saat seorang lelaki mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu,
Ayah akan memasang wajah paling keren sedunia…. :’)
Ayah sesekali menguping atau mengintip kalian saat kalian mengobrol berdua di ruang tamu.
Sadarkah kamu, kalau hati Ayah merasa cemburu?

Saat kamu mulai lebih dipercaya oleh Ayah, Ayah akan melonggarkan sedikit keketatan peraturan keluar rumah untukmu. Dan ketika kamu memaksa untuk melanggar jam malamnya, yang dilakukan Ayah adalah duduk di ruang tamu, menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir. Lalu, saat perasaan khawatir itu sudah memuncak, hati Ayah akan mengeras dan Ayah pasti memarahimu ketika kamu pulang larut malam.
Pahamkah kamu mengapa Ayah melakukan hal itu? Ayah melakukan hal itu karena Ayah sadar bahwa sesuatu yang sangat ditakuti oleh Ayah akan segera terjadi: putri kecilnya akan segera pergi meninggalkannya.

Setelah lulus SMA, Ayah akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang sarjana. Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Ayah itu semata – mata hanya karena dia memikirkan masa depanmu nanti. Tapi toh Ayah tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginannya.

Ketika kamu menjadi gadis dewasa dan kamu harus pergi kuliah di kota lain, Ayah harus melepasmu di bandara. Tahukah kamu bahwa badan Ayah terasa kaku untuk memelukmu? Ayah hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini – itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. Padahal, sebenarnya Ayah ingin sekali menangis seperti Ibu dan memelukmu erat-erat. Namun, yang dapat Ayah lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu lalu berkata: “Jaga dirimu baik-baik ya sayang”
Ayah melakukan itu semua agar kamu KUAT, kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.

Di saat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Ayah. Ayah pasti selalu berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.

Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Ayah tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan, kata-kata yang keluar dari mulut Ayah adalah : “Tidak….. Tidak bisa!”
Padahal dalam batinnya, Ayah sangat ingin mengatakan “Iya sayang, nanti Ayah belikan untukmu”.
Tahukah kamu bahwa pada saat itu Ayah merasa gagal membuat anaknya tersenyum?

Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana, Ayah adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu. Ayah akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa dan telah menjadi seseorang.

Sampai saat seorang teman lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada Ayah untuk mengambilmu darinya, Ayah akan sangat berhati-hati untuk memberikan izin karena Ayah tahu bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.

Dan akhirnya, saat Ayah melihatmu duduk di panggung pelaminan bersama seorang lelaki yang dianggapnya pantas menggantikannya, Ayah pun tersenyum bahagia.
Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Ayah pergi ke belakang panggung sebentar dan menangis?
Ayah menangis karena sangat berbahagia. Kemudian dengan lirih Ayah berdoa:
“Ya Allah, putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita dewasa yang cantik. Bahagiakanlah ia bersama suaminya. Aamiin”

Setelah itu Ayah hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk. Ayah telah menyelesaikan tugasnya untuk menjagamu.

Ayah adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat.
Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis, dia harus terlihat tegas.
Bahkan saat dia ingin memanjakanmu, dia harus tetap terlihat tegas.
Dan dia adalah orang pertama yang selalu yakin bahwa “KAMU BISA” dalam segala hal.

---------------------------------------------

Entah kenapa, dua hari terakhir ini aku emang lagi pengen nangis. Mungkin karena terlalu suntuk dan capek dengan rutinitas kelas 3 SMA. Bukan apa-apa sih, cuma pengen ngeluarin emosi aja biar lega, karena aku nggak tahu refreshing macam apa yang bener-bener bisa hati dan pikiranku ikhlas dan semangat menjalani ini semua. Terus aku kepikiran, mungkin ada baiknya aku merenung sambil nangis. 

Dan ternyata, waktu aku buka blognya Dheru aku nemu tulisan ini. Aku baca, aku beneran nangis. Lega aku sekarang :) Bener ya ternyata kalau Allah itu selalu sesuai prasangka hamba-Nya.

Terima kasih untuk siapapun yang udah buat tulisan ini. Terima kasih Dheru udah meng-copy tulisan ini entah dari mana. Terima kasih ya Allah karena Engkau telah mengerti perasaan jenuhku. Dan yang pasti, terima kasih untuk Ayahku dan Ayah-ayah sedunia lainnya, kalian begitu tegar dan hebat. Aku akan selalu berusaha untuk memberikan segalanya yang terbaik untuk Ayah, dengan usahaku sendiri. Terima kasih, Yah. Aku sayang Ayah. 

Monday, 4 March 2013

It's been March of 2013

Woah. It's been March of 2013. So many things I haven't done in this early year, but there are lots of things happened too in this past 2 months. Guess what, my national examination is getting getting closer. And also the graduation.

I'm sorry, really really sorry for my absence from writing and blogging world recently. I'm not that busy actually, but there are always things that I gotta do which is related to my responsibility as senior high school student: study hard for the final-national-examination. Even in my Sunday I rarely enjoy it much as a holiday or day for relaxing my body, mind, and soul, but I 'happily' spend it to study and take many subject courses; from 1 p.m. to 8 p.m.; non-stopped. Amazing? Definitely.

But the las thing I always remember of being year 12 is.... that I gonna miss this year much. Struggling, prayers, stressed out, bad marks, hopes, good marks, teachers, school, books, tasks, examinations, and also... Friends. Bestfriends. I promise I would tell you about my bestfriends that have been good mates, nice partners to argue, and best listeners when I'm down, later after these-things-that-making-me-wanna-screamo-out-loud find their end.

Please pray me for my final examination, fellas. By the way, the final-examination which is held by my school (it's different from UN) is going to be held, next week, March 11, 2013. I hope I can embrace ALL of the materials. I hope, I wish, so please pray for me, and I will pray you either (I'm not lying, I promise!)



Alright, see you then and may God bless all of us :-)