Tuesday, 31 December 2013

2013's phase

Tujuh jam menuju pergantian tahun.

Aku teringat segala hal yang terjadi selama setahun ini. Dari dentum detik pertama di awal tahun 2013 hingga waktu-waktu terakhir di bulan Desember. Setahun ini banyak sekali rasanya hal yang aku alami; dan di sini aku mencoba untuk mengingat baik-baik semua hal yang sangat mempengaruhiku di tahun 2013.


Yang pertama, di saat-saat terakhir aku merasakan nikmatnya jadi siswi SMA. Aku dikelilingi sahabat-sahabat yang begitu beragam sifatnya, aku punya teman-teman yang sangat ambisius dan menggebu-gebu untuk mengejar cita-cita, dan aku selalu dicambuk dengan semangat untuk selalu belajar keras demi hasil Ujian Nasional yang baik dan memuaskan. Setiap saat aku menghabiskan waktu untuk belajar bersama mereka, aku tidak pernah merasakan lelah atau 'ini hal yang berlebihan'; karena aku tahu ini tidak akan bisa diulang, jadi, aku nikmati saja setiap celotehan yang aku dengar dari mereka. Aku senang. Aku tidak merasa ini berat karena aku punya teman-teman yang sama-sama berjuang denganku. Aku paham sekarang bahwa setiap manusia butuh sahabat dan teman untuk menemani mereka melangkah dan beraktifitas sehari-hari. Bersosialisasi; merasa disayangi orang-orang dekat dan berbalik menyayangi mereka; adalah hal yang penting dan sangat menyenangkan dalam hidup. Aku tidak bisa hidup seorang diri. Aku merasa sangat beruntung bisa memiliki sahabat-sahabat dan teman seperti mereka; seperti Padmanaba 68.

Lalu kami Ujian Nasional. Setelah itu ada pengumuman undangan SNMPTN; dan aku tidak cukup beruntung untuk diterima di jurusan pilihanku. Aku merasa waktu-waktu persiapan menuju SBMPTN adalah hal yang tidak mudah; aku seperti harus berjuang sendiri meski masih ada segelintir teman yang bernasib sama denganku, tetapi rasanya beda. Aku dan teman-teman seperjuangan SBMPTN hanya bisa pasrah dan tetap bekerja keras agar bisa mendapatkan perguruan tinggi impian. Bukan apa-apa, yang sangat memberatkan kala itu hanyalah bahwa kami tinggal beberapa kepala saja dari 219 teman seangkatan. Dari situ aku belajar untuk bebesar hati; bahwa hidup tidak selalu indah seperti yang kita harapkan. Aku belajar untuk tetap ikhlas dan pasrah; percaya bahwa Tuhan selalu punya rencana indah di setiap tujuan hidup kita. Aku belajar untuk melawan keadaan; aku harus tetap bekerja keras pantang menyerah meski aku sudah sangat lelah untuk belajar lagi, meski saat itu aku harus berjuang sendiri, demi impianku. Aku belajar untuk tetap tegar dan kuat; aku masih punya Tuhan dan keluarga yang selalu ada setiap saat, meski tidak banyak orang dan teman yang bisa memahami aku saat itu.

Kemudian kami wisuda dan merasakan sebuah prom night: 'PTTA 68'. Hanya dua hal yang tergambarkan saat itu; aku; kami semua; sangat bahagia dan ingin waktu berhenti detik itu juga. Kami terlalu sayang dengan diri kami; Padmanaba 68. Kami tidak pernah tahu dan paham bahwa 3 tahun adalah rentang waktu yang sebentar. Kami ingin bisa bersama lebih lama dan lama lagi. Bahkan mungkin selamanya. Aku merasakan ini sangat berat, aku sedih, galau, dan biru berhari-hari, kami semua merasakan hal yang sama. Namun, mimpi kami telah menanti, hanya sejengkal lebih jauh di depan dari momen berkesan itu. Aku belajar lagi kali ini. Hidup terus berlanjut, hidup terus menjalankan rodanya dan mau tidak mau kita harus mengayuhnya lebih keras lagi. Kita mengenal banyak orang; mereka pernah datang ke dalam keseharian kita dan ada saatnya mereka harus pergi untuk kepentingan diri mereka sendiri. Aku sayang teman-temanku, sedih dan pilu sekali rasanya untuk melepas mereka, tetapi akan lebih miris saat aku menahan mereka untuk tidak pergi. Karena aku tahu mereka pergi untuk menjadikan diri mereka lebih baik; untuk masa depan bangsa ini. Aku hanya ingin mereka tahu, mereka selalu hidup di hatiku. Aku sayang kalian, selamanya.

Hidup sebagai anak kuliah dimulai. Aku menempuh 'perjalanan' panjang hingga akhirnya sampai di Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya. Ini artinya aku merantau, aku harus memulai hidup yang sama sekali baru dengan cara hidup yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Banyak orang bilang merantau adalah salah satu cara untuk meninggalkan zona nyaman-mu dan merasakan petualangan menjadi manusia yang sebenanya; ungkapan itu sama sekali tidak salah. Dua minggu pertama menjadi anak rantau adalah masa-masa yang tersulit, karena aku masih belum punya banyak teman, tidak terbiasa dengan keadaan sekitar, belum banyak hal yang harus aku lakukan, setiap malam aku hanya teringat rumah, keluarga, dan sahabat-sahabatku di Jogja. Aku di sini harus mandiri, aku mengurus hidupku ini sendirian. Aku hanya teringat dengan masa-masa saat aku berjuang SBMPTN, bahwa aku harus tegar dan kuat menghadapi sesuatu. Jadilah aku menyabarkan diriku sendiri dan menguatkan diri untuk mencari banyak teman dan banyak kegiatan. Seiring berjalannya waktu, aku mulai memiliki banyak teman, seabrek tugas kuliah, dan mencoba terlibat dalam sebuah UKM di Institut. Kini, hampir lima bulan sudah aku menjalani hidup sebagai mahasiswa-anak kos. Aku tidak tahu berapa banyak hal yang aku dapat dengan perubahan ini. Aku jadi sadar bahwa keluarga adalah tempat yang akan selalu menerimamu, apapun keadaanmu, kapanpun, dan di manapun, dan Allah dan keluargaku adalah rumah terbaik yang pernah ada. Di sini aku sudah terpisah jauh oleh orangtuaku, aku hanya teringat akan perjuangan mereka menyekolahkanku sampai detik ini, aku harus membanggakan mereka dengan prestasiku di Kampus Perjuangan. Aku harus lebih disiplin dan tegas mengatur waktu agar tugas kuliah dan tugas rumah tidak terbengkalai. Aku harus tetap bekerja keras dan tangguh agar aku bisa segera menyelesaikan tugas dan tepat waktu saat pengumpulannya. Aku percaya setiap pengorbanan waktu dan tenaga; tidur sehari hanya 3 jam, sakit, hingga mengulang tugas untuk kesekian kalinya; demi sebuah totalitas tidak ada yang sia-sia; Allah akan menakdirkan seperti harapanmu atau menggantinya dengan lebih baik. Aku harus menjadi orang yang lebih bisa membuka diri agar aku bisa menerima berbagai macam sifat dan karakter teman-teman baruku yang berasala dari berbaai daerah di Nusantara. Dan yang pasti, meskipun berada di kampus ini tidak seperti harapanku di awal, namun aku percaya Allah pasti punya rencana baik di balik ini semua. Aku hanya perlu untuk selalu percaya pada diriku sendiri dan tetap bekerja keras. Dan masih banyak hal yang aku dapat sejak berada di Surabaya yang tidak bisa aku jabarkan di sini satu-persatu...


Jadi, baru pembelajaran ini saja yang aku dapat di 2013. Terima kasih banyak Tuhan, atas semua hal yang Engkau berikan di tahun 2013 ini. Aku tidak bisa meminta lebih banyak lagi, aku merasa sangat bersyukur sekaligus sangat kecil karena masih banyak hal yang harus aku pelajari dalam hidup. Aku tahu di 2014 aku bisa belajar lebih banyak dari ini.


2013, thanks for being the most memorable and valuable year in my life so far.



Surabaya,
31 Desember 2013

Sunday, 29 December 2013

My Soundcloud Page


Pardon my voice as it is not that wonderful. I sing depends on the mood. I hope you enjoy :)

Tuesday, 10 December 2013



"I'm happy to be here because I'm gonna find a new family and my success here."

Sunday, 17 November 2013

Riding My Bicycle

Hello everyone. I hope today, when you read this post, you are currently happy and really enjoy your life. I dont mean to tell you this in sarcasm, NO! I just want to ensure that we all gotta enjoy our life, no matter what have been happened yesterday, what are happening right now, or gonna be happened tomorrow. We just all need to enjoy it, literally.

Alright. Talking about enjoying life, right now, I’m quite happy with my new rythm of life. All of the elements I have right now, they are something new to me because I’m nowadays having my college life in another city from my family; and which is quite distant from’em. It’s challenging and I feel like having a brand new adventure of life. Even though sometimes I still feel missing home and family and bestfriends and friends in my hometown, but I always keep the thoughts of ‘never stop stay positive and you’ll soon find your new family in your new place’ to decrease my sorrow about home.

I really remember at the first 2 months I stayed in this new city to me. That was the most pathetic time while I’m living here. I almost always cried everyday because I often stayed alone in my room, I still didn’t have many friends, I still didn’t know where I should go even I have a motorbike here, I always cried when my parents called me on phone, and mostly I always felt blue everytime I saw my photos with my bestfriends in my room’s wall and listened to a song by Glee Cast: Homeward Bound/Home.

That song always reminds me about living home to a new place but you’re still trapped with your past memories. But its lyrics says a right thing about my journey. Here’s the lyrics:

I'm sitting in a railway station
Got a ticket for my destination, oh oh

On a tour of one-night stands
My suitcase and guitar in hand
And every stop is neatly planned for a poet and a one-man band

This wave, wave
Is stringing us along, along
Just know you’re not alone
'Cause I’m gonna make this place your home

Everyday's an endless stream
Of cigarettes and magazines, oh oh
And each town looks the same to me
The movies and the factories
And every stranger's face I see
Reminds me that I long to be

The trouble it might drag you down
If you get lost, you can always be found

Just know you’re not alone
Cause I’m going to make this place your home

Where my thought's escape me
Where my music's playing
Where my love life's waiting silently for me

Settle down, it'll all be clear

The trouble it might drag you down
If you get lost, you can always be found

Just know you’re not alone
'Cause I’m gonna make this place your home

Where my music's playing
I'm gonna make, I'm gonna make, make this place your home

Where my music's playing
I'm gonna make, I'm gonna make, make this place our home

Know you're not alone.....



Until now I still feel dejected everytime I listen to this song because I immediately remember of my family in home, but in the same time this song either strengthens me because it tells me the truth; that I just need to calm down to face all of the trouble here and everything will find its way end.

Since I live here, I’m learning on how to live with a very big heart and don’t underestimate to others.  Why should I do that? Because everything here is new to me. The culture, the way of life, the ways to express our thoughts to others, everything. But it doesn’t mean I don’t filter everything I get here. If I don’t a big heart to accept and share what I have, then I can guarantee to myself that I must be can not enjoy my study and find a new family here.


I don’t know how would life bring me in or where would life take me to, but all I get to do is just trusting in myself, to always have a big heart and do the best; for me, for everyone. Everything will worth it in the end. My bicycle is still good enough to be ride on and I will try to always keep it balance.


Sunday, 29 September 2013

Living Outside The Box



Selama ini aku hidup dalam kotak yang hangat. Kotak yang terfasilitasi sedemikian rupa sehingga untuk memindahkannya saja aku tidak perlu mengangkatnya sendiri, aku cuma perlu memanggil tangan-tangan dingin yang selalu menemaniku kemanapun aku pergi, dan kotak ini akan berpindah tempat sesuai mauku. Di dalam kotak ini ada banyak sekali barang-barang untuk membantuku bertahan hidup. Sekali lagi, semua hal yang ada di dalam kotak ini ada karena bantuan tangan-tangan dingin milikku. Hebat, bukan? Tentu saja. Tangan-tangan itu memang sangat luar biasa. Tanpa mereka, aku tak akan dapat hidup sentosa di dunia. 

Kembali ke kotak. Barang apa saja yang ada di dalam kotak tersebut? Oh, tentu banyak sekali. Ada baju-baju bagus, sepatu-sepatu lucu, lemari pakaian yang isinya lengkap, kasur yang empuk, buku-buku bacaan menarik yang tidak pernah habis untuk aku baca, boneka-boneka besar dengan bulu yang lembut dan halus, berbagai macam hewan peliharaan yang sangat perhatian, hingga sebuah dapur dengan alat-alatnya yang lengkap dan tajam-tajam. Semua barang, segala macam kebutuhan, semuanya ada di dalam kotakku yang sangat menyenangkan ini, dan selalu membuatku malas untuk keluar dari dalam kotak. 

Namun, suatu ketika, aku mendapatkan sebuah mimpi. Di dalam mimpi tersebut ada sebuah kertas melayang, jatuh perlahan tepat di atas kepalaku. Permukaan kertas itu sangat halus dan tinta yang dipakai untuk menulis di kertas itu begitu menyilaukan. Baru kali ini aku mendapat surat bertinta emas. Kemudian, aku baca tulisan di kertas itu. Tulisan itu tidak begitu jelas, namun aku bisa membacanya dan aku mengerti maksudnya. Surat itu berkata bahwa aku harus keluar dari kotakku.

Aku bimbang dan ragu. Bingung dan senang. Takut dan penasaran. Selama ini aku memang selalu ingin untuk pergi jauh meninggalkan kotakku yang begitu kucintai karena terkadang aku merasa bosan ketika hidup di dalamnya. Aku selalu dimanjakan dengan tangan-tangan dingin milikku, aku ingin belajar menghidupi diriku sendiri tanpa bantuan mereka. Biar mereka mendoakanku dari jauh saja, selebihnya hidupku ini akan kulanjutkan dan aku perjuangkan sendiri. Doa-doa mereka akan selalu menyertaiku dan itulah yang membuatku berhasil selama ini.

Setelahnya, aku teringat akan segala hal di dalam kotakku. Begitu berwarna, saling melengkapi, dan saling menguatkan. Berat sekali meninggalkan kotak itu. Aku harus mengepak barang-barang kebutuhanku ke dalam tas; semua barang yang aku perlukan untuk kehidupanku yang sama sekali berbeda dengan kehidupan di dalam kotak.

Pikiranku tertuju kembali tentang mimpi itu. Tulisan di dalam surat sangat meyakinkanku untuk segera pindah dari kotak. Aku semakin bimbang sebenarnya, karena banyak hal di dalam kotak yang tidak dapat aku tinggalkan begitu saja. Lalu, aku harus bertindak apa? Aku sangat bingung. 

Baiklah, tangan-tangan dingin tadi menghampiriku dan berkata bahwa dunia ini tidak sempit, dunia ini luas, dan dunia di luar kotak akan lebih membuatku belajar banyak hal tentang hidup dan menikmati dunia dengan seutuhnya. Aku akan menemukan pengganti isi-isi kotak yang baru; hewan peliharaan kesayangan yang baru, kasur dan sofa yang mungkin lebih empuk, baju yang mungkin lebih usang dan lusuh; pokoknya segalanya. Memang tidak akan sama dengan isi kotak yang lama, namun pasti semuanya akan tergantikan. 

Aku merenung, memejamkan mata, dan berdoa. Aku sudah yakin sepenuh hati untuk meninggalkan kotak.

Aku kemudian beranjak pergi, sambil mencium tangan-tangan dingin tadi, berpamitan dengan seluruh isi kotak, melambaikan tanganku dan menatap mereka lekat-lekat. Lalu aku pergi, melangkah, meninggalkan mereka semua.

Dan kini, di sinilah aku, menulis tentang perjalananku meninggalkan tempat yang paling aku cintai di dunia. Kini aku berada dalam sebuah kotak baru yang isinya masih berantakan, belum saling melengkapi, dan sedikit kacau. Bahkan ada beberapa sisinya yang berlubang. Semoga aku bisa segera memperbaikinya. Terkadang aku masih merindukan kotakku yang lama.

Sunday, 4 August 2013

As bestfriends will always be in our heart



"How lucky I am to have known someone who was so hard to say goodbye to. But there must be coming, a time to say goodbye. It's painful to say goodbye, but it's more painful to ask them to stay if you know that he/she really wants to go. And I believe that goodbyes are not forever. Goodbyes are not the end. They simply mean I'll miss you until we meet again. Keep me in your heart and I'll always stay there forever, as we are bestfriend."

Friday, 29 March 2013

Pahlawan Seumur Hidupku: Ayah

Semoga kalian yang membaca tulisan ini bisa mengambil banyak hikmah juga seperti aku. Selamat membaca.

---------------------------------------

Bila kamu adalah seorang anak perempuan yang sudah dewasa, anak perempuan yang sedang bekerja di perantauan, anak perempuan yang ikut suamimu merantau di luar kota atau luar negeri, anak perempuan yang sedang bersekolah atau kuliah di daerah yang jauh dari kedua orang tuamu, kamu pasti lebih sering merasa sangat rindu pada Ibumu kan? Lalu bagaimana dengan Ayahmu?

Mungkin, karena Ibu lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari, kamu jadi lebih merasa rindu pada ibumu. Tapi, tahukah kamu bila ternyata Ayahlah yang mengingatkan Ibu untuk menelponmu?

Mungkin, sewaktu kamu kecil dulu, Ibulah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng. Tapi, tahukah kamu bahwa sepulang dari bekerja -dengan wajah lelah- Ayah selalu menanyakan pada Ibu tentang kabarmu dan apa yang kamu lakukan seharian tadi?

Pada saat kamu masih seorang anak perempuan kecil, Ayah biasanya mengajari putri kecilnya bersepeda. Dan setelah Ayah menganggapmu bisa, Ayah akan melepaskan roda bantu di sepedamu. Kemudian Ibu bilang: “Jangan dulu Ayah, jangan dilepas dulu roda bantunya”
Ibu takut putri manisnya terjatuh lalu terluka. Namun, sadarkah kamu bahwa Ayah dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu dalam mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu  bahwa putri kecilnya PASTI BISA?

Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, Ibu menatapmu iba. Tetapi Ayah akan mengatakan dengan tegas: “Boleh. Tapi tidak sekarang, kita beli nanti”
Tahukah kamu mengapa Ayah begitu? Itu karena Ayah tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu terpenuhi.

Ketika kamu sakit flu, Ayah yang terlalu khawatir terkadang akan sedikit membentakmu saat berkata :
“Sudah Ayah bilang, kamu jangan minum air dingin!”.
Berbeda dengan Ibu yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut. Ketahuilah bahwa saat itu Ayah benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.

Ketika kamu sudah beranjak remaja, kamu mulai menuntut Ayah untuk memberimu izin keluar malam, tetapi Ayah bersikap tegas dan mengatakan: “Tidak boleh!”.
Tahukah kamu apa alasan Ayah begitu? Ayah melakukan itu untuk menjagamu karena bagi Ayah, kamu adalah sesuatu yang amat sangat luar biasa berharga.
Setelah itu, kamu pasti marah pada Ayah, lalu masuk ke kamar sambil membanting pintu. Tahukah kamu, bahwa saat itu Ayah memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya? Sebenarnya, Ayah sangat ingin mengikuti keinginanmu, akan tetapi dia HARUS menjagamu.

Saat seorang lelaki mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu,
Ayah akan memasang wajah paling keren sedunia…. :’)
Ayah sesekali menguping atau mengintip kalian saat kalian mengobrol berdua di ruang tamu.
Sadarkah kamu, kalau hati Ayah merasa cemburu?

Saat kamu mulai lebih dipercaya oleh Ayah, Ayah akan melonggarkan sedikit keketatan peraturan keluar rumah untukmu. Dan ketika kamu memaksa untuk melanggar jam malamnya, yang dilakukan Ayah adalah duduk di ruang tamu, menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir. Lalu, saat perasaan khawatir itu sudah memuncak, hati Ayah akan mengeras dan Ayah pasti memarahimu ketika kamu pulang larut malam.
Pahamkah kamu mengapa Ayah melakukan hal itu? Ayah melakukan hal itu karena Ayah sadar bahwa sesuatu yang sangat ditakuti oleh Ayah akan segera terjadi: putri kecilnya akan segera pergi meninggalkannya.

Setelah lulus SMA, Ayah akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang sarjana. Ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan Ayah itu semata – mata hanya karena dia memikirkan masa depanmu nanti. Tapi toh Ayah tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginannya.

Ketika kamu menjadi gadis dewasa dan kamu harus pergi kuliah di kota lain, Ayah harus melepasmu di bandara. Tahukah kamu bahwa badan Ayah terasa kaku untuk memelukmu? Ayah hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini – itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. Padahal, sebenarnya Ayah ingin sekali menangis seperti Ibu dan memelukmu erat-erat. Namun, yang dapat Ayah lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu lalu berkata: “Jaga dirimu baik-baik ya sayang”
Ayah melakukan itu semua agar kamu KUAT, kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.

Di saat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah Ayah. Ayah pasti selalu berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.

Ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan Ayah tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan, kata-kata yang keluar dari mulut Ayah adalah : “Tidak….. Tidak bisa!”
Padahal dalam batinnya, Ayah sangat ingin mengatakan “Iya sayang, nanti Ayah belikan untukmu”.
Tahukah kamu bahwa pada saat itu Ayah merasa gagal membuat anaknya tersenyum?

Saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana, Ayah adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu. Ayah akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa dan telah menjadi seseorang.

Sampai saat seorang teman lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada Ayah untuk mengambilmu darinya, Ayah akan sangat berhati-hati untuk memberikan izin karena Ayah tahu bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.

Dan akhirnya, saat Ayah melihatmu duduk di panggung pelaminan bersama seorang lelaki yang dianggapnya pantas menggantikannya, Ayah pun tersenyum bahagia.
Apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu Ayah pergi ke belakang panggung sebentar dan menangis?
Ayah menangis karena sangat berbahagia. Kemudian dengan lirih Ayah berdoa:
“Ya Allah, putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita dewasa yang cantik. Bahagiakanlah ia bersama suaminya. Aamiin”

Setelah itu Ayah hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk. Ayah telah menyelesaikan tugasnya untuk menjagamu.

Ayah adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat.
Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis, dia harus terlihat tegas.
Bahkan saat dia ingin memanjakanmu, dia harus tetap terlihat tegas.
Dan dia adalah orang pertama yang selalu yakin bahwa “KAMU BISA” dalam segala hal.

---------------------------------------------

Entah kenapa, dua hari terakhir ini aku emang lagi pengen nangis. Mungkin karena terlalu suntuk dan capek dengan rutinitas kelas 3 SMA. Bukan apa-apa sih, cuma pengen ngeluarin emosi aja biar lega, karena aku nggak tahu refreshing macam apa yang bener-bener bisa hati dan pikiranku ikhlas dan semangat menjalani ini semua. Terus aku kepikiran, mungkin ada baiknya aku merenung sambil nangis. 

Dan ternyata, waktu aku buka blognya Dheru aku nemu tulisan ini. Aku baca, aku beneran nangis. Lega aku sekarang :) Bener ya ternyata kalau Allah itu selalu sesuai prasangka hamba-Nya.

Terima kasih untuk siapapun yang udah buat tulisan ini. Terima kasih Dheru udah meng-copy tulisan ini entah dari mana. Terima kasih ya Allah karena Engkau telah mengerti perasaan jenuhku. Dan yang pasti, terima kasih untuk Ayahku dan Ayah-ayah sedunia lainnya, kalian begitu tegar dan hebat. Aku akan selalu berusaha untuk memberikan segalanya yang terbaik untuk Ayah, dengan usahaku sendiri. Terima kasih, Yah. Aku sayang Ayah. 

Monday, 4 March 2013

It's been March of 2013

Woah. It's been March of 2013. So many things I haven't done in this early year, but there are lots of things happened too in this past 2 months. Guess what, my national examination is getting getting closer. And also the graduation.

I'm sorry, really really sorry for my absence from writing and blogging world recently. I'm not that busy actually, but there are always things that I gotta do which is related to my responsibility as senior high school student: study hard for the final-national-examination. Even in my Sunday I rarely enjoy it much as a holiday or day for relaxing my body, mind, and soul, but I 'happily' spend it to study and take many subject courses; from 1 p.m. to 8 p.m.; non-stopped. Amazing? Definitely.

But the las thing I always remember of being year 12 is.... that I gonna miss this year much. Struggling, prayers, stressed out, bad marks, hopes, good marks, teachers, school, books, tasks, examinations, and also... Friends. Bestfriends. I promise I would tell you about my bestfriends that have been good mates, nice partners to argue, and best listeners when I'm down, later after these-things-that-making-me-wanna-screamo-out-loud find their end.

Please pray me for my final examination, fellas. By the way, the final-examination which is held by my school (it's different from UN) is going to be held, next week, March 11, 2013. I hope I can embrace ALL of the materials. I hope, I wish, so please pray for me, and I will pray you either (I'm not lying, I promise!)



Alright, see you then and may God bless all of us :-)

Friday, 11 January 2013

TAHUN BARUU!

2013


HAPPY NEW YEAR EVERY-ONEEEE!
May every single goal we make in the beginning of 2013 would lead us to the succees we have always dreamed about. 
YEAAAYYY!! =)


A lil' bit late is no matter people, right? Yes of courseee!! The most important thing is that we have promised ourself to always be better, everyday in this year, so we can make our dreams are in our reach!

Oh, by the way, I have got a good poet from one of the best Indonesian's author, Dee, but it's just a lil' piece of the whole one. Please read and keep the moral value:


'Di manakah Kelahiran?
Hari ini aku menggenggamnya
Lewat kering kuning daun bambu mati
Yang ketat memeluk putih bulir ketan
Sampai akhirnya terbelah pisau dan gigi
Setiap hari raya tiba.'


Yap, kadang kita harus melewati sebuah akhir untuk memulai suatu yang baru, benar kan? ;-)