Tuesday, 27 December 2011

Buku Rapor yang Merah

Aku belum menulis tentang hal yang membuatku cukup depresi di akhir tahun; yang biasanya juga dialami oleh anak-anak sekolahan lainnya: Buku Rapor yang Merah.

Buku raporku tidak berwarna merah, tidak ada tinta merah pula di dalamnya, tetapi dia menjunjukkan yang mukanya semakin 'memanas'. Dia malu. Di dalam dirinya ada sesuatu yang membuatnya semakin kerempeng, tidak berbobot, dan dengan itu tentu saja membuatnya semakin merasa jelek. Maka ia malu.

Setiap pertengahan bulan Juli dan Desember, ibuku pasti merampasnya lagi setelah disandra oleh guru-guruku di sekolah selama berbulan-bulan; untuk ditumpahi nilai-nilai yang menjadi cerminan anak itu selama di sekolah; pintar atau bodoh; bagi sebagian orang tua. Ibuku lalu membawanya ke sudut ruangan itu, tempat perampasan itu terjadi. Duduk dengan santai, tanpa ada beban. Si buku rapor sudah membisikkan sesuatu pada Ibu,

'Bu, berdoa dulu, jangan kaget. Ini hasil 'kerja keras' buah hatimu selama satu semester,'

Ibu tidak dengar. Lagi, 'bu, istighfar dulu. Dzikir. Kuatkan iman,'

Masih tidak dengar. Menyerahlah ia, 'Ah ya sudahlah, terserah ibu saja. Apa ibu tidak lihat mukaku sudah seperti udang rebus begini?'

Masa bodoh. Sampai saat itu, Ibu masih belum ada perasaan apapun. Kemudian, Ibu membuka buku rapor yang di sampulnya tertera namaku dan NIS-ku dengan sangat cetha. Perlahan-lahan. Awalnya, dicermatinya nilaiku sewaktu masih di semester awal SMA. Lumayan. Semester kedua. Hmmh, okelah. Semester tiga, inilah saatnya, dan...... duaaaaarrr!!! Ibuku serasa trjun bebas dari lantai 52 Pathaya Tower ke lantai dasar gedung itu. Kaget. Tidak percaya. HAH?!

Iya, nilaiku masih dianggap lulus memang. Masih memenuhi kriteria sebagai anak kelas IPA yang selalu lolos dari jaring-jaring nilai rata-rata minimal, yang eergggh, selalu memberatkan pundakku dan otakku. Tapi, ini suatu penurunan kualitas, menurut setiap orang yang melihat angka-angka yang tertanam di kolom nilai subyek semester satu. Tapi, menurutku kuantitas juga bisa, karena yang dilihat kan nilai, hasil akhir, bukan sebuah proses kerja keras. Sial.

Lalu ibu pulang. Raut wajah buku raporku tidak bisa digambarkan; antar senang dan semakin tertekuk. Senang karena berhasil menghancurkan hati pembaca pertamanya yang setia, namun juga semakin tertekuk karena ia tahu, seluruh familiku akan tahu kehancuran bagian tubuhku bagian awal-tengah ini. Mukaku sekarang sudah seperti tomat pasti, pikir buku rapor.

Ibu sudah sampai di rumah. Aku daritadi hanya berdoa di rumah, berdiam diri, mengurung kejiwaanku dari peradaban dunia di luar pagar rumahku. Pokoknya aku ingin sekali mendengar berita baik dari ibu. Titik. Tapi ternyata, ibu tidak segera mendatangiku dan menyerahkan si buku rapor. Ibu diam saja, hanya menanyakanku sudah mandi atau belum, aku jawab sudah, itu saja. Tak ada yang lain. Eh? Aku curiga, jangan-jangan hasilnya jelek. Atau malah bagus? Supaya nanti bisa dikasih hadiah? Ah, namanya juga positive thinking, boleh kan? Impuls dari neutron-neutron di otakku mengantarkan bebagai info tak diperlukan di dalam otakku. Gugup. Takut. Wajar? Ya.

Aku tanya ibu tentang isi raporku. Sekali, ibu malah mengalihkan pertanyaanku untuk membantunya memasak. Kedua kalinya, ibu masih tidak mau membuka rahasia tentang raporku, mengalihkannya lagi, kali ini dengan menemani Rara, adikku, main. Ketiga kalinya, karena aku super penasaran, akhirnya dijawab juga oleh ibuku. Aku mengatur napasku. Tarik napas..... Keluarkan... Huh... Hah... Huh... Hah... Lalu ibuku membukan mulutnya, menyemprotkan suaranya, dan terdengarlah kalimat berikut: 'Kamu ada di tengah, pas di tengah.'  Berhentilah seketika itu juga pikiranku. Kosong. O.

Sesaat kemudian ibu menceramahiku, mengkhotbahiku, menasihatiku dengan berbagai macam hal. Aku tidak bisa fokus ke arah pembicaraan ibu. Yang paling sering kudengar hanyalah, 'Semester ini kamu benar-benar disibukkan dengan kegiatan. Besok nggak boleh kaya gini lagi. Kemarin yang terakhir.' Hanya itu saja, cuma diulang-ulang rasanya, sampai suara ibuku kacau, yang terdengar semakin lama seperti kaset rusak, tidak jelas suaranya. Pokoknya hanya membanding-bandingkan nilaiku yang menurun dari semester sebelumnya.

Jadi, ibuku hanya melihat prestasiku dari nilai yang aku raih. Dari ranking, RANKING. Bukan usaha, bukan kerja kerasku, bukan kejujuranku. Namun kemudian aku tanamkan ke otak beliau apa yang sudah aku lakukan selama ini dan memang inilah hasilnya. Aku tanam sedalam mungkin, supaya tidak mudah tercabut oleh sekop-sekop yang sudah terkontaminasi dan tercemar perlakuan dan mindset orangtua-orangtua di Indonesia pada umumnya. Dan alhamdulillah beliau mengerti. Namun tetap saja menuntut perbaikan. Kalau yang ini, okelah aku terima, ini memang salahku.

Bahwa aku tidak terima diperlakukan seperti itu. Iya, aku tahu letak kesalahanku di mana: manajemen waktu yang tidak baik dan tidak bijaksana. Cukup itu saja yang dibahas. Tidak perlu membicarakan hal lainnya. Tidak boleh ikut kegiatan lagi, tidak boleh main-main terlalu sering, ada tambahan les privat segala, belum lagi dibanding-bandingkan dengan teman lain. Jangan menyambung-nyambungkan hal ini dengan hal lain!

Ya. Cukup.

Namun, kenyataannya, ya memang hampir semua orang tua selalu beralasan 'karena kami sayang kamu, Nak', atau 'karena ini semua demi masa depanmu' atau 'kami ingin kamu pintar, berprestasi dan MEMBANGGAKAN orang tua.' saat kita, para anak, bertanya mengapa nilai menjadi sangat penting untuk mereka, lebih penting daripada akhlak yang mulia. Nilai buat mereka adalah kunci kesuksesan masa depan anak mereka. Nilai yang tinggi, memuaskan, membanggakan, seperti sudah menjadi tiket eksekutif akan kehidupan yang bahagia, aman, sejahtera, makmur.

Ya memang. Nilai itu penting. Bagus kalau nilai kita memuaskan. Tapi, nilai itu hanya jadi bahan evaluasi. Bukan hal yang kekal. Bahan evaluasi itu yang akan memperbaiki pribadi kita, kalau kita melalui prosesnya di jalur arteri yang benar, dengan kejujuran. Bahan evaluasi tadi bisa berubah, bisa bertambah baik, karena kita telah memperbaiki kepribadian kita juga. Kalau bahan evaluasi tadi didapatkan dari hal yang prosesnya saja tidak dilakukan dengan benar, lalu moral apa yang bisa kita ambil? Sudah kubilang, bahan evaluasi itu fana. Memang, bahan evaluasinya baik, namun pribadinya tidak bertambah baik, justru semakin buruk.

Tarik benang merahnya.

Jadi, apakah dengan bahan evaluasi yang baik pasti memastikan pribadi yang baik? Bukankah kehidupan kita di masa depan akan ditentukan oleh pribadi kita sendiri, bukan bahan evaluasi di buku rapor semasa sekolah tadi? Apalagi didapat dengan proses yang tidak benar?

Camkan. Tapi sungguh, aku tidak bermaksud menyindir siapapun. Maaf.

Monday, 19 December 2011

Cinta Seorang Lelaki yang Sangat Sederhana


Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.
 
Kenapa? Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.

Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi. Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.

Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!


Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap. Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.

Kamu pasti bercanda!

Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.

Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!

Nania serius! tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya.

Tidak ada yang lucu, suara Papa tegas, Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!

Nania tersenyum.

Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.

Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan? Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?

Nania terkesima.

Kenapa?

Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.

Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!

Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur. Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!

Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata ‘kenapa’ yang barusan Nania lontarkan.

Nania Cuma mau Rafli, sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.

Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.

Tapi kenapa?

Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat biasa.

Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.

Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!

Cukup!

Nania menjadi marah.

Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?

Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli.

Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak ‘luar biasa’. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.

Mereka akhirnya menikah.


***

Setahun pernikahan.

Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.

Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.

Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.

Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.

Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.

Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu! Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar! Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!

Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.

Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.

Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!

Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?

Rafli juga pintar!

Tidak sepintarmu, Nania.

Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan. Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.

Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.

Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli!

Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.

Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua.

Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.

Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak.

Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang. Tak apa, kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri. Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang.

Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik..

Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya? Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.

Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!

Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania. Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.

Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!

Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.

Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.

Cantik ya? dan kaya!

Tak imbang!

Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.

Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.

bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.

Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!

Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.

Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.

Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapipembukaan berjalan lambat sekali.

Baru pembukaan satu. Belum ada perubahan, Bu. Sudah bertambah sedikit, kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.

Sekarang pembukaan satu lebih sedikit. Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.

Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.

Masih pembukaan dua, Pak! Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.

Bang? Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.

Dokter?

Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.

Mungkin? Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu? Bagaimana jika terlambat?

Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.

Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.

Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.

Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.

Pendarahan hebat!

Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.

Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.

Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.

Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.

***

Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.

Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.

Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.

Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra..

Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.

Nania, bangun, Cinta? Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.

Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,

Nania, bangun, Cinta? Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.

Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.

Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.

Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.

Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh.

Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.

Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.

Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?

Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.

Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.

Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.

Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.

Baik banget suaminya! Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!

nania beruntung! Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.

Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!

Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.

Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa?

Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?

Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka.. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.

Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.

Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.

Seperti yg diceritakan oleh seorang sahabat..

Saturday, 17 December 2011

The Wombats

This is another 'treasure' that I got from Warrnambool. Iolande likes to listen their songs--again, it's because of Fletcher that always plays the Indie-Rock bands' songs. The Wombats is more absurd if I can say, as their lyrics are typically not related from oneparagraph to the next one. Like this lyric, I take it from their song titled "Tokyo (Vampires and Wolves)":

We're self imploding
Under the weight of your advice
I wear a suitcase  
Under each one of my eyes
Finally I know now what it takes  
It takes money and aeroplanes

[Chorus:] 
If you love me let me go
Back to that bar in Tokyo
Where the demons from my past
Leave me in peace (ah ah ah ah)  
I'll be animating every night  
The grass will be greener on the other side
And the Vampires and Wolves  
Won't sink their teeth (ah ah ah ah)
I'm sick of dancing with the beast

Astrophysics you'll never be my closest friend  
I find no comfort in what my mind can't comprehend
Finally I work out what it takes
It takes money and airplanes
 




[Chorus:] 
If you love me let me go
Back to that bar in Tokyo
Where the demons from my past
Leave me in peace (ah ah ah ah)  
I'll be animating every night  
The grass will be greener on the other side
And the Vampires and Wolves  
Won't sink their teeth (ah ah ah ah)
I'm sick of dancing with the beast

No matter how much it needs me
Go and follow someone else's lead

[Chorus:] 
If you love me let me go
Back to that bar in Tokyo
Where the demons from my past
Leave me in peace (ah ah ah ah)  
I'll be animating every night  
The grass will be greener on the other side
And the Vampires and Wolves  
Won't sink their teeth (ah ah ah ah)
I'm sick of dancing with the beast


See? What's the relation between  the bar in Tokyo, demons, the greener grass, and vampires and wolves that won't sink their teeth? They're just crazy, nevertheless very creative. I'm starting to like sort of indie, folk, pop, bands though. But the jazz and blues always go first :)

Wednesday, 14 December 2011

A Walk To Remember



Alright, you may call me an old-odd-nerd person, but this is the fact: I just watched this movie. I just cried as long as I watched it. I just wish someday I can find a man that really faith to love me sincerely, like what Landon Carter did to Jammie Sullivan. What a very........ dramatic story :') I love quotes they made. Here I give you some of them.


Jamie: "The problem isn't finding out where you are gonna go--It's figuring out what you're gonna do once you get there that is!"


Jamie:" I don't need any reasons to be angry to God."


Landon: "Love is always patient and kind. It is never jealous. Love is never boastful or conceited. It is never rude or selfish. It doesn't take offense and is not resentful."



Landon: "Jamie saved my life. She taught me everything. About life, hope, and the long journey ahead. I'll always miss herr. But our love is like the wind. I can't see it, but I can feel it."

Sunday, 4 December 2011

Foster The People





My new favorite musician: Foster The People!

I'm starting to like'em because my host-brother really liked to play their music in the car and talk about Foster The People when we had dinner. Apparently it's good and unique! I now addicted to Foster The People <3

 Their 1st album's cover, Torches


P.S. I'm always reminded of Warrnambool, my host family, mostly Fletcher, when I listen to their songs. Iolande, please tell your family that I love and miss them really sure!

It's a wonderful.... Warrnambool!

As I told you, I'd like to share about my trip in Warrnambool. It was a student exchange program that provided by my college to Warrnambool College, Warrnambool, Victoria. Well, it was not just about how the education runs the students to study and have a fun learning but more than that, I learnt how they life and felt how excited is being Australian! Sorry Indonesia, may this because of I've never been abroad before hehehe.

So I departed to Melbourne on 24th of October 2011 at about 7.30 pm. Oh, I haven't mentioned who guys were going to Aussie: Me, Adli, Ulin, Nisa, Ama, Yuka, Danissa, Eva, Sari, Christy, Mr. Kusworo and Mrs. Rini. Later I'll show you our photos. Then we arrived at Melbourne Int'l Airport in the morning (Australian Time), I forget what time it was. We went straight to Southern Cross Station by SkyBus, then we got tickets to Warrnambool at 1 pm. It took about 4 hour to reach Warrnambool from Melbourne. When we arrived, Mr. Gleyson (Warrnambool College's Teacher) picked us up then we went to Coastal Thunder Point (it's a beach) then dropped us to Warrnambool Beach Backpackers (it's such a homestay place). We didn't go directly to our host-families's house, because we just got arrived in Warrnambool, so we stayed there for a night. On the night, we had dinner with Mr. Gleysons family, in Mr. Gleyson's house of course.



Southern Cross Station, Melbourne
In front of Mr. Gleyson;s House. That's Lucia with red jumper and Dobby with blue jumper. They're Mr.Gleyson's children

The 2nd day, we went to Warrnambool College. We met new friends there and..... we were amazed to Warrnambool College! The buildings, atmosphere, people around, they are truly great! 1st day of living in Warrnambool was just started :D I met my host-sibling either: Iolande. I stayed with her family when I was there with Nisa also. Then I spent my 1st day school with them through English, Science, and Indonesian! Haha. It was fun doing subjects there, may be because of they just took some subjects as they desire for, then they can focused on what they're doing. The next thing to do was came after Iolande to see her ballet class! Yeah, I envy her to be able dance well. Then me and Nisa had dinner with our host-family. Our host-family consist of Greg (host-father), Mercellez (host-mother), Fletcher (host-brother), and Iolande (host-sibling). We were really please to have a lovely host-family like'em. I miss them so badly :(

Met new friends :D


Ballet Class!

The 3rd day, we went to Hopkins Falls, Cheese World, Twelve Apostles, Port Campbell, and Loch Ard Gorge. They were nice and beautiful!

Loch Ard Gorge
 
Twelve Apostles
Cheese World
Port Campbell
Hopkins Falls


4th day. It was Friday. It was a Formal Dance day! So, formal dance was a agenda of assembly just for year 10. It was held in the gym from 7-11 pm. Me, Nisa, Yuka, and Ulin were either invited to the Formal Dance and we had a huge excitement there! We danced all the time with Iolande, Molly, Erin, Rachel, Shannon, Tziganne, and others! But because we're not accustomed of this atmosphere, we decide to get home at 10 pm. But it was no matter, we stiil kept the fun :)

Formal Dance! With Iolande and her lovely friends :D
Formal Dance! With the guys :)

5th day. We had no classes on Satuday so we could get rest until fully rested on that day and..... it was good. Saturday was also a quality time with my host-family. So, my host-mother is one of Flagstaff Hills Maritime Village staffs and also a ballet teacher, my host-father is working for Warrnambool City Council, for the theatre and Art Gallery to be exact, and my host-brother is a graduated student from Warrnambool College (he finished his study already, he's going to go to Melbourne Uni next February) but he also takes a part-time job in Flaggstaff Hills. Flaggstaff Hills is a place of tourism object, it's a duplicate of Native-Old-Australian Village and had stories about Loch Ard Ship that sinked along time ago, around the Great Ocean Road coastal. Me and Nisa were going to Liebeg St. (main street of Warrnambool) and visited Flagstaff Hills on that Saturday. And they also have a very good show about Loch Ard history; they show it using a very gorgeus laser and lights; they called it 'Shipwrecked Show'. We don't have any kind such this object in Indonesia, it's a very greaaaat place to visit and explore! I spend my time full of excitement there. Amazing!

Flagstaff Hills Maritime Village
Me with my roommate, Nisa :)

6th day, Sunday. Nisa, Iolande, and I were going to Warrnambool Show. Here, it's much a bit like 'Sekaten'. So there were many rides and also an exhibiton of agricultural. Also a hirse riding comptition, nursery house for animals, and a music show were settled on the other side. Nice and really cool! In the afternoon, we went to Tower Hill, Port Fairy, and Coles Supermarket with Greg and Mercellez also. In the evening all of us; Greg, Mercellez, Iolande, Fletcher, Nisa, and I; went to have dinner in India Gate (Restaurant of Indian Cuisine). We had much of conversations, laughs, shared things, and many other more! I love how this family run their life lively and happily. I wondered can I apply this way of life in my real life in Indonesia? Mhh... it's hard I thought.

Warrnambool Show
My beloved hostdad (Greg), hostbrother (Fletcher), and hostmother (Mercellez)
Nisa, Me, and a very dearly my hostsibling: Iolande! <3 xoxo

7th day, Monday. Cooking class and quality time with classmates and Iolande's close friends!

Grampians on the next day. I actually hated to leave for Grampians. Why? Because, when I left for Grampians, just for 1 day, Greg was also leaving for Adelaide to see her mother that had been sick for long. So..... when I left Warrnambool to Melbourne, I didn't see Greg. I just, not disappointed, but, missed him. I just wanted to be hugged by the most concern man and best host-father in the world. And took some photos with him. The other thing was, Fletcher was doing his VCE exam (it;s like UNAS here) when I left Warrnambool. So he's busy studying preparing for his exam when I packed my belongings. We also didn't have time to take photos together :( Well...... I concluded that I didn;t suppose to leave Warrnambool that day. I supposed to stay in Warrnambool, as long as it's possible! You know, all of my friends and I are really really love Warrnambool. This town is really lovely. We can get everything within just 10 minutes to reach'em. Falls, beaches, lake, rivers, mountains, old nice buildings, parks, everything! And..... I just couldn;t stop crying in the bus, in my journey to Melbourne. My dear..... Oh God :'( :'(

Then, in Melbourne, we went to Melbourne Uni, Melbourne Aquarium, Flinders Street Station, had trip with City Circle Tram, then straight to Parliament House, Federation Square, Queen Victoria Market,  Royal Exhibition Building, Cartlon Gardens, crossing Yarra River and that unexpected thing was: heading in to Crown Entertainment Complex! LOL. We saw many fancy things that I even can't buy it after saving my money for a year. Damn, it was freak but fun! Hahaha :p

Melbourne was a very crowded and hectic city. It's much more like New York I thought. So when I got Melbourne, I felt like I just wanted to sing Alicia Key's Empire State of Mind but replace the 'New York' to 'Melborune', so it becomes:


Melbourne! Concrete jungle where dreams are made of, there's nothing you can’t do, now you're in Melbourne! These streets will make you feel brand new, the lights will inspire you. Let's hear it for Melbourne, Melbourne, Melbourne!

Huahahahaha! And I kept singing it in my mind, and I suddenly got a very big ambition to live in Melbourne, spend the university years in Melbourne Uni and then have my career here in Melbourne also.


Yes, since that time, because of that song, my ambition to have a life in Melbourne keep spinning in my head, force my heart to make it surely happen, and prepare myself to get it all. :) :)

That's all from Warrnambool!
P.S. I love my host-family so baddddly! And I believe that I can come visit back soon, for sure :) I love you, the Diamantises! <3
Sorry for the photos are still not being uploaded. Something's error with the connection >:(



Your Little Girl,
Nana

Sunday, 13 November 2011

Happiness

I'm sorry for not writing in this page for a quite long time. Blame my laziness and the old-bad-suck internet access. But soon I will write a very very nice story---it is true! It comes from myself, when I did a student exchange program in Warrnambool, Australia. I had a real happy life, knew what's happy life and how to live a happy life there. Just one word for living in Warrnambool: Amazing!

Wait for it, readers.
Xoxo

PSTW 2011



It's actually a verryyy old topic to write but as I havent written it before, so this sec I MUST write about this. Probably not much though.

PSTW 2011 stands for Padmanaba Science Tech Week 2011. It's an annual science competition event, had been held since 2006, I guess. This science competition is the biggest one that held by high school students! Doesnt it sound very cool and gorgeous? Hahaha, thanks people :p

This year, we got something new, then we may call it a 'breakthrough' way. We also provide an exhibition for high school students and public, so it wasn;t just a scince olimpiade for the junior ones. The exhibition is Faculty Fair. So there were many many majors and faculties that offering about their studies and superiorites, definitely. Some of them were architect, bio medicine, civics engineering, chemical engineering, psychology, law and business, electronical engineering, and dentistry. Alluring, right? Sure. And we got about.... 2000 visitorrs! That was a veeerrryyyy BIG BLAST! Yeaaaaaaayyyy! :D

And for the science olimpiade, which is called by Padmanaba Scinece Competition, for the year 7-9, there're approximately 140 groups, consist of 3 students for each group, registered as participants! Much better than a year before, because its enhancement is quite significant, from 90 something to 140. Lovely.

Forget all the problems, much terrible things, botherness, lack of money, inconvenience, everything that made our works were not so fine as we expected, obstructered, but then every single 'FIGHT', 'DON'T GIVE UP' and 'YOU CAN DO IT' from our friends made us stronger, trust everything can happen even more the money would be getting more and more :p but yeah, it was the best 'tablets' for us to keep up the work, stayed on fire, to make PSTW 2011 happened, to make everyone felt a good atmosphere of science in PSC and smelled of their bright future in Faculty Fair. And it worked well, very well.

I miss how hard we worked and some of us got sick and stressed out. But those things worth it, it had been paid well. Now we just need to pray for Padmanaba Cup and Fun Bike, for their success and anything best for'em.

Keep up the good work, guys! I love and miss you so badly, PHCo PSTW 2011 xx

Saturday, 1 October 2011

Mmmm, hectic!





Aku enggak tau kenapa ya, mungkin karena banyak tekanan atau apa... Aku ngerasa minggu ini adalah minggu paling kacau dari minggu-minggu yang pernah aku lalui selama hidupku ini. Minggu ini, diawali dengan try out Ganesha Operation, yang embel-embelnya itu adalah kerjasama antara GO dan panitia PPHP 69, dan itu nggak berjalan dengan lancar. Ada masalah sedikitlah intinya. Tapi alhamdulillah ya bisa teratasi. Oke, itu yang pertama.

Kedua, di hari berikutnya aku dapet kerjaan tambahan lagi untuk PSTW. kalau urusan yang ini, alhamdulillah, lancar-lancar aja. Tapi masalah yang lain itu yang sangat harus dipermasalahkan: mas' petugas imigrasi bilang pasporku baru jadi tanggal 3 Oktobeeerrrr! Gila apaaa! Padahal aku harus buat visa yang butuh waktu plg enggak 3 minggu. Itu mepet banget kao beneran baru bisa jadi tanggal 3 Oktober! Dipikir bikin visa bisa seminggu jadi! mana maho banget lagi bapak petugas imigrasinya, bikin tambah emosi! Dan aku nangis karena aku bener-bener takut paspor ga bisa jadi lebih cepat. Tapi untungnya, bisa diambil besok sorenya kata ayahku. Aaaa papa yukero memang yang paling hebat! :* alhamdulillah lagi untuk yang ini :)

Ketiga, hari keesokannya dan lusanya, aku ada acara diklat OSIS/MPK. Aku punya banyak banget tugas malemnya, padahal harus packing juga, ada ulangan juga kalo nggak salah untuk keesokan harinya itu! Matematika trigonometri sama tik tentang jaringan-jaringan gitu deh, aaaargggh! Gimana pikiranku nggak bertumpuk-tumpuk? Aku cuma bisa belajar semampuku, melaluinya sebisa mungkin, dan.... ya udah itu terjadi begitu saja. Akhirnya jam 4 sore aku berangkat diklat OSIS/MPK. Sampai sana untungnya lancar-lancar aja semua acaranya. Ini alhamdulillah lagi :)

Keempat, minggu ini adalah H-3 minggu PSC PSTW 2011! Ya Allah betapa aku merasa sangat tetekan akan kenyataan yang ada :( Aku di antara tekanan, tapi entah kenapa aku nggak berani dan tega untuk kasih tekanan sama temen-temenku yang lain. Aku.... menganggap yang udah aku kasih ke mereka itu cukup berat. Tapi kerja mereka tu ya nggak kasih perubahan yang berarti. Tolong aku ya Allah. Aku nggak bisa cerita banyak di sini, apalagi sama temen-temen di sekolah, termasuk temen deketku sendiri. Hanya Engkau Yang Mahatau.

Kelima, yang terakhir dan paliiinngg penting sedunia adalah, minggu depan aku udah ujian Mid Semester! Ahuahuhhuhuhhuhhuhuu :'( :( Aku nggak punya persiapan apa-apa, tau! Nah, ini juga pokok permasalahanku dalam minggu ini: aku sadar aku adalah anak perempuan yang memang seharusnya rajin belajar dan mengerjakan tugas, melakukan semuanya sebagaimana mestinya, seakan-akan hidup ini flat dan baik-baik saja, tanpa ada banyaaak masalah. Tapi, apa kenyataannyaaa?! Aku masih sibuk mengurus PSTW, MPK, atau hal-hal lain di luar hal pelajaran sekolah. Aku justru jadi anak perempuan paling nggak pedulian di kelas, paling nggak ngerti apa-apa tentang pelajaran, paling ga uptodate lah kalo urusan akademis.

Ya, aku emang beda dari temen-temen perempuan lain di kelas. Aku beda dari mereka semua. Aku lebih suka berkegiatan di luar kelas daripada di dalam kelas. Aku iri sama temen-temenku yang bisa konsentrasi belajar di dalam kelas, ngerjain tugas dengan rasa penuh tanggung jawab dan bangga, dan nggak punya banyak pikiran lain tentang hal di luar pelajaran. Tapi, entah kenapa, rasanya temen-temenku yang lain itu nggak sejalan sama pikiranku dan yang aku lakukan sekarang. Mmm apa ya, kurang... kurang ngerti posisiku yang juga punya banyak tugas di luar sana. Iya, bisa dibilang gitu. Mmm tapi, aku juga mgerasa kurang peduli sama tugas-tugas dan pelajaran sekolah. Seandainya aku bisa lebih perhatian sama tugas dan rajin belajar, mungkin aku nggak ngerasa kayak gini ke temen-temen. Yaah, semoga aja :) Tapi sebenernya tetep ada kok temen-temen yang bisa ngertiin posisiku dan selalu ada untukku, kapan pun itu :)

hmm oke cukup dulu cerita hectic-hecticnya. aku mau minggu midku lancar, aku bisa konsen blajar, dan menghasilkan sesuatu dengan maksimal! amin ya Rabbal alamin. Terima kasih Ya Allah :)



Sincerely Yours,
Nana.



Tuesday, 13 September 2011

At The Lowest Point



I just feel... I'm tired. You may call it, saturation. When you're really sick of all of the matters you have to head on, the problems that never stop attacking yourself, and the troubles you get but you don't get the solve of those thingy. You have thought, worked, as the best as you can, but the result? Those nerdy things are bigger, being more saturate, and harder to solve. Confuse? Yes, of course, CERTAINLY!

But there is something in your heart make you smile, support you more and more, give you tons of energy that you may use to gain your motivation. And..... you're not longer in loneliness nor dullnes nor saturation! You're bright, shining, and beautiful! You're dare, you're tough, you're cool!

And that's how to leave your lowest point or exhaustion, makes you easier to solve the problems you have, and makes you being more awesome :)


Chin ups!

...

Kamu tau? Menunggu itu bukan sesuatu yang menyenangkan untuk dilakukan.
Apalagi kamu tak tahu apa yang harus kamu tunggu.
Bosan? Jenuh? Tidak jelas? Iya.

Mengharapkan kehadiran seseorang, disaat sosok itu tidak menyadarinya, itu menyebalkan.
Kamu bisa muak, sakit, muntah, hanya karena tetek bengek macam itu.

Kamu mengharapkan seseorang berada di dekatmu, bersama untuk waktu yang tak terhitung lamanya,
namun, seseorang itu ternyata lebih memilih untuk berada di dekat orang lain, daripada denganmu.
Lebih parah, kamu sudah sangat mengharapkan kehadiran orang tadi sampai terbawa mimpi, tingkat dewa.

Ini puisi atau cerita sih?
Cerita sebenarnya, tapi aku buat penulisannya seperti puisi.
Tapi masih belum cocok dikata puisi, ini tidak pantas menurutku. Bahasanya kurang indah dan menyentuh.

Iya, karena ini hanya tentang masalah yang klise. Aku tidak bisa membuat bahasa yang indah untuk menggambarkannya.
Karena hatiku memang sedang tidak indah. Sangaaaat tidak indah.

Ini cuma masalah ada seorang perempuan mengharapkan kehadiran seorang laki-laki, tapi tidak kesampaian.
Ya sudah sih, cuma itu masalahnya.
Tapi sayangnya perempuan ini sudah bermimpi terlalu jauh, dan ketika dia mengetahui kebenarannya...... dia jatuh. Sakit, muntah, muak, semuanya! Pokoknya sakit!

Oke, cukup. Sampai ia jatuh dan sakit-sakitan, ia sadar, menunggu itu memang pekerjaan yang menyebalkan dan untuk hal yang macam gini, menurutnya sangat tidak menguntungkan.
Ia pergi dan mencari obat untuk lukanya tadi. Tapi mungkin dia butuh waktu yang lama untuk mencarinya, karena....

Hatinya ingin sendiri dulu. Tidak diganggu, tidak ditunggu, menunggu, mengganggu, dan menggalau.
Menurutnya, dengan kesendirian yang cukup lama, pasti membuat luka itu sembuh lebih cepat dan dapat menerima seseorang, yang dia harapkan, dengan mudah.




Saturday, 10 September 2011

Steamed Cupcakes


So, why oh why nowadays I really want to make a cupcake! Mmh maybe because of my friend was making a really cute cupcakes and how surprised me when I knew the steps are so easy to do! Then, I browse a recipe of the steamed cupcake. Voila! I got it :)) It's much easier I think than the roasted one. So here it is:

(In Indonesian yaaaaa hahaha :))

Kompas, 10 Februari 2008

Bahan
80 gr margarin
100 gr gula pasir
2 butir telur
75 gr tepung terigu
25 gr coklat bubuk
1/4 sdt baking powder
50 gr kacang mede sangrai, dicincang


Cara membuat
1. Kocok margarin dan gula hingga lembut,
2. Masukkan telur satu per satu sambil dikocok rata
3. Tambahkan tepung terigu, coklat bubuk dan baking powder sambil diayak dan diaduk rata
4. Tambahkan kacang mede sangrai. Aduk rata. Tuangkan ke dalam cetakan muffin yang diberi alas kertas cup cake
5. Kukus 25 menit

Berani!

Kalian nggak akan kenal sama tetangga kalian, kalau kalian nggak keluar rumah.
Nggak akan bisa nyetir mobil kalau nggak berani belajar nyetir mobil.
Nggak akan bisa menghargai perbedaan pendapat kalau kalian nggak pernah berani untuk berani berkata beda.
Kalian nggak akan pernah bisa mengenal orang lain kalau kalian nggak pernah berusaha mendekatinya
Dan, kalian nggak akan pernah merasakan besarnya dunia kalau kalian nggak berani untuk mencoba hal-hal baru yang ada, yang bisa kalian lakukan selama kalian masih hidup.


P.S. Minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir batin ya! Maaf baru bs mengucapkan lewat blog sekarang. Semoga kita menjadi pribadi yg lebih ikhlas dan berhati tulus, suci, seperti bayi yg baru lahir. Amin :)

Regards,
Nana.

Thursday, 25 August 2011

I'm fine

Hello world. I don't know why, but I feel good this morning.
Like there was nothing happening.
Like I have nothing to lose after the bad thing I met yesterday.
Like I don't have to be pathethic or sad for many days, it's wasting time.
Like what I've been through yesterday was..... just a little thing that I don't have to be scared of.

God has sent some intuition to me, by the dream. Then when I woke up, I really felt good and I'm fine. I'm really fine, and I can through the day after that tragedy a.k.a yesterday with smile and spirit! Ya Allah, thanks for everything. I know that tragedy was a kind of learning for me, next time I have to be careful. But I also think it may be a kind of.... karma? Who knows? Because I haven't paid some fee to my friends, hehehee :) And, the most important thing, I just don't wanna have trip moreover long journey, by a bus!

So, that's all. I'm fine. Thank God.

Wednesday, 24 August 2011

Kehilangan.


Pernah kehilangan sesuatu yang berharga? Aku barusan aja. Tadi siang. Rasanya masih nggak percaya. Aku nggak mau nyebutin sesuatu berharga apa yang hilang dari kepemilikanku. Tapi yang jelas, aku ngerasa sangat........ kehilangan.

Sedih.
Kecewa.
Rasanya pengen putar balik waktu.
Nggak percaya.
Pengen ikhlas, tapi nggak bisa.
Takut.
Kangen.
Rasanya dalam waktu yang dekat, masih punya dia.

Aku masih nggak percaya aku kehilangan sesuatu itu. Walaupun aku cuma punya dia sebentar, tapi ternyata..... gini ya rasanya kehilangan. Aku sedih. Sedih banget. Rasanya aku nggak mau cerita ke siapa-siapa. Diam itu emas.

Rasanya juga aku nggak mau orang-orang tau. Soalnya aku masih nggak terima. Aku pengen dia lagi. Pengen bangeeeet! Ya Allah, apapun caranya, kalo dia emang rejeki buat aku, balikin aku sama dia. Aku cuma mau dia. Tolong ya Allah, tolooooong :( pertemukan aku sama dia lagi. Amin.



Sunday, 14 August 2011

For: You.

This is for the boy that I really admire with.

Eiffel





Eiffel again, for the x (uncountable)-times............ Still, I love you :*

Friday, 12 August 2011

Untitled - Maliq and D'essentials

Ketika kurasakan sudah ada
ruang dihatiku yang kau sentuh
dan ketika kusadari sudah
tak selalu indah cinta yang ada
mungkin memang ku yang harus mengerti
bilaku bukan yang ingin kau miliki
salahkah ku bila
kaulah yang ada dihatiku

adakah ku singgah dihatimu
mungkinkah kau rindukan adaku
adakah ku sedikit dihatimu
bilakah ku menggangu harimu
mungkinkah kau tak ingin adaku
adakah ku sedikit dihatimu

bila memang ku yang harus mengerti
mengapa cintamu tak dapat kumiliki
salahkah ku bila
kaulah yang ada dihatiku
kau yang ada dihatiku

bila cinta kita tak kan tercipta
ku hanya sekedar ingin tuk mengerti
adakah diriku singgah dihatimu
dan bilakah kau tau
kaulah yang ada dihatiku
kau yang ada dihatiku
adakah ku dihatimu

Thursday, 11 August 2011

Perempuan

Kata temenku, kodrat seorang perempuan itu menunggu. Bukan untuk menghampiri. Kita cukup diem aja, ya udah, ya diem aja, nunggu, bener-bener cuma bisa nunggu sampai laki-laki yang ideal dan cocok sama kita dateng menghampiri, dan....... yah mulai pacaran, membina hubungan yang lebih serius lah intinya.

Iya kalau cewek itu bener-bener menarik, jadi banyak cowok yang menghampiri dia, dan dia tinggal pilih mana cowok yang cocok sama dia. Tapi kalo kayak aku gini? Cewek biasa aja, yang kalo diliat dari luar nggak kelihatan menarik? Apa aku juga cuma bisa diem sampe ada Pangeran Kuda Hitam dateng nyamperin aku? Mau mati single apa? Enggaklah, na'udzubillahimindzalik.

Yaudah, oke, aku diem. Aku nggak bilang ke siapa-siapa kalo aku lagi suka sama seorang cowok, bahkan udah sampe tahap sayang. Inget, sayang. Aku simpen di hatiku sendiri. Tapi, akhirnya nanti aku juga ngerasa sakit hati sendiri. Sakit banget. Apalagi waktu kita tau dia suka sama cewek lain. Dan mereka bener-bener udah deket. Siapa coba yang sakit hati? Kita sendiri kan? Si perempuan kan? Cowok tadi nggak ngerasain kan? Satu lagi, parahnya, benar-benar cuma aku yang merasakannya. SENDIRIAN.

Tuh, bener darimana kalo cewek cuma bisa nungguin? Mungkin karena cowok nggak pernah ngerasain hal ini. Mereka kan nggak peka. Cowok itu kapan sih peka dan menghargai perasan seorang perempuan?

Asal kalian tau, aku suka sama cowok ini gara-gara kami sering main bareng. Apa pun lah, pokoknya sering melakukan hal bareng-bareng. Dia juga sering njahilin aku, iseng banget kalo udah ketemu aku. Kayaknya pengen gangguin aku tiap menit.

Nah, ya udah, awalnya aku biasa aja. Sampai udah sekitar setengah tahun ngalami ini bareng-bareng, aku mulai suka ke dia. Suka sebagai orang lain ya, bukan sekedar temen. Tapi dia nggak sadar. Dia tetep aja njahilin aku, gangguin aku, nyebelin lah pokoknya. Dan aku sama dia pun jadi makin deket otomatis.

Sampe sekarang pun, dia masih melakukan hal yang sama ke aku. Tapi aku nggak bisa sebebas dulu lagi kalo main sama dia. Aku kadang agak menjauh. Kenapa? Karena aku sakit hati ke dia. Karena aku suka sama dia, tapi dia nggak sadar, dan malah suka sama cewek lain dan dia ndeketin cewek itu terang-terangan di depanku dengan sangat............ mesra. Karena aku nggak tau cara kasih tau ke dia gimana. Karena aku terlalu terpaku sama statement: "Cewek itu nunggu aja, nggak perlu ngejar." Alhasil, dia jadi nggak tau sampe sekarang kalo kau suka sama dia.

Dia juga mungkin nggak sadar atau malah pura-pura nggak sadar kalo cara dia deket sama aku itu buat aku suka sama dia? Namanya juga cewek, sekeras apapun perasaannya, kalau tiap hari dan sepanjang tahun diperlakukan kayak temen deket, siapa yang nggak merasa luluh dan ngerasa peduli sama cowok tadi? Nggak ada kan? Tapi ya cowoknya itu nggak kerasa. Mereka tetep nggak peduli sama kita kayak kita ke mereka. Mereka tetep ngisengin aku. Mereka cuma anggap aku kayak mainan mereka, kalo udah bosen tinggal ganti, tinggalin aja. Mereka bener-bener nggak peduli sama perasaan perempuan, khususnya aku.

Jadi, salah siapa ini sebenernya? Aku? Apa cowok yang aku sukai?

Aku... udah bingung mau nulis apa lagi.
Yang jelas, aku lagi sakit hati sekarang.
Udah, cukup.


Guys, please treat a girl like you treat you mother or sister. Respect her. Love her. Court her.
Sincerely,
Me.

Sunday, 24 July 2011

Melek, Na!

Selama 2 minggu di awal bulan Juli ini aku bener-bener merasa menjadi anak yang sangat pemalas, tidak bertanggungjawab, seenaknya sendiri, intinya sangat pengecut. Aku dengan enaknya bolos, main, nonton, padahal ada banyak tugas dari bos eventku (cc: Burhanudin Luthfi), tugas sekolah, tugas pribadi, dan tugas rumah tentu saja.

Aku enggak mau kebiasaan super jelek ini berlanjut, ENGGAK MAU! Soalnya aku udah merasakan dan tau gimana akhirnya nanti kalau aku terus-terusan kayak gini. Semua kacau, berantakan. Deadline gak terpenuhi, tujuan awal hilang karena kelalaian di awal, dan akhirnya nanti (hal paling gak aku suka di dunia dan paling nyebelin seumur hidup): aku nyesel senyesel-nyeselnya. Astaghfirullahaldzim.

Ayo, Na, mulai hidupmu (lagi, yang sebenarnya) besok pagi, ehm, malam ini maksudnya. Kamu yang sebenernya bukan anak pemalas kayak gini, percaya deh. Kamu selalu semangat untuk menghadapi semua tugas dan tanggung jawab yang kamu punya, dan jarang mengeluh. Berdoa sama Allah, usaha, punya tujuan dan tekad yang kuat, kamu pasti bisa menyelesaikan semuanya :)

Semangat, Nana. Ingat, kamu cuma butuh tekad kuat, usaha, dan berdoa sama Allah, karena cuma Allah yang tau apa yang terbaik untuk kita, setelah semua hal yang kita kerjakan. Allah selalu bersamamu, Na, selalu :)



Esprit et sourire!

Thursday, 21 July 2011

A Kind of Underdog

Don't you know that you're pretty?
Don't you know that you're so wanted by a lot of guys?
Don't you know that how easy for you to get a handsome-perfect boy to be your boyfriend?
Don't you know that it is the 'hellest' thing of you and so many girls envy of it?
Don't you know that you're a kind of perfect girl? With a beauty face, slim body, and your intelligence?
I guess you know. You should know of every single perfect things that you have. It should be.

I wish I was one of those pretty girls, like you. The ones who get all the guys looking at her as she walks past. The ones who can get any guy she wants. The ones who wake up looking beautiful, effortlessly. The ones with the flawless skin, the pretty eyes, the gorgeous hair and the perfect figure. One of those girls who live their life with confidence.
I wish I was one of those girls, but I’m not. I’m just me.

Fine, I'm just me, I can't be you, pretty girl. But I do believe God has got another plan to make my life beautiful. May be not as beautiful as your life goes by, but when I enjoy it, that's called a happy life! Thanks for making me underdog, before.

Tuesday, 19 July 2011

Saturday, 16 July 2011

Kamu.

Entah kenapa, aku akhir-akhir ini sering mikirin kamu.
Aku seriiing banget berfantasi kalau suatu hari aku bakal jadi pacarmu.
Jalan berdua di sekolah, waktu malem Minggu, atau kapanpun.
Aku berimajinasi, waktu kita jalan berdua, ada orang yang ngomongin kita.
Entah yang jelek, entah yang buruk, pokoknya ngomongin kita.

Aku juga sering ngebayangin, setiap kali kamu menatap mataku, atau sebaliknya,
semua orang bisa liat kalau tatapan mata itu bukan hanya kegiatan 'saling melihat' biasa,
tapi itu tatapan mata yang menunjukkan kalau kamu sayang banget sama aku, dan sebaliknya.

Intinya, ini adalah yang aku inginkan:

Walaupun kamu sering gangguin aku, sering jahilin aku, sering godain aku,
tapi tetep aja,
tiap kali kamu lihat aku waktu aku lagi serius, kamu lihat aku dengan tatapan yang beda,
tatapan orang yang sayang banget sama pacarnya, dan gak mau kehilangan pacarnya.




Ya Allah, maaf kalau aku berlebihan.
Aku salah enggak sih terlalu berharap segitu besarnya? Sampe sekarang pun, aku sebenernya takut buat mikirin ini. Aku takut yang terjadi justru yang sebaliknya.
Jadi, kadang aku coba buat berhenti memikirkan hal ini, karena menurutku itu useless, buang-buang tenaga, dan ujung-ujungnya, bisa-bisa malah bikin sakit hati.

Tapi aku bener-bener gak bisa menghilangkan dia dari pikiranku. Dan sejauh ini, aku masih suka mikirin dia.
Aku suka dia. Sangat amat suka.

A Little Thing Called Love


When you love someone and you want to do everything to make her/him happy while you're not, or even you're not the one who caused it, or are not a part of her/him happiness,
that is a little thing that you call.... love

Saturday, 9 July 2011

Bersyukur

Hei, tiba-tiba aku nemuin file ini. Harusnya ini di post bulan Mei, tapi karena lupa, ya udah deh baru sekarang -___-


Ya Allah, aku bersyukur atas semua yang telah Engkau berikan kepadaku.

Keluargaku, teman-teman, lingkungan sekolah, kegiatan-kegiatan di sekolah maupun di luar sekolah yang sedang dan telah aku ikuti, dan masalah-masalah yang tak hentinya bertamu ke dalam hidupku.

Engkau telah memberiku waktu yang hanya bisa kuhabiskan untuk melakukan kegiatan-kegiatan sekolahku tadi, bersosialisasi dengan teman-teman, kemudian menyelesaikan masalah-masalah yang tersisa, dan begitu sedikit waktu yang kuluangkan untuk keluargaku.

Adalah emas bagiku jika aku punya waktu untuk bersyukur atas semua yang telah aku miliki ini. Aku tidak bisa setiap hari, apalagi setiap menit, atau bahkan berdasarkan ego-ku sendiri untuk mengatur waktu bersyukurku. Bersykur yang berkualitas maksudku, tau kan?

Saat aku merasa sangat bahagia dengan semua yang aku lakukan, itulah saatnya untuk bersyukur. Jarang kan kita merasa senang di tengah-tengah kesibukan yang begitu padat bahkan untuk dijejali waktu untuk membaca novel saja tidak bisa? Iya, itulah saat kita bersyukur.

Nah, sekarang aku sedang merasa sangat senang setelah berpergian dengan keluargaku. Artinya ini waktuku untuk bersyukur. Terima kasih Ya Allah. Engkau memang Yang Terbaik.

22:47

Sabtu, 7 Mei 2011

It’s Saturday night. It’s a fabolous night as I’ve already spent it for my family. Great!